Melodi yang Hilang
Melodi yang Hilang
Taman itu.. taman yang indah.. warna-warni bunga, harum sekali. Ramainya taman ini dengan pepohonan yang hijau nan asri. Hari itu aku merawatnya bersama ayah. Aku senang sekali akan indahnya taman itu. Saat malam ayahku mengalunkan nyanyian yang merdu diiringi music yang sempurna untukku.
Ayahku adalah seorang pria yang tenang. Aku ingin menjadi sepertinya, yang penyabar dan tenang dalam hal apapun. Ia mencintai music seperti mencintai ibu dan keluargaku.
Dulu, aku juga sempat belajar bermain piano dengannya. Ia mengajariku dengan senyum yang hangat, aku sering sekali berkata “aku tidak bisa mengalunkan nada demi nada dan melodi demi melodi seindah yang ayah mainkan”. Tapi ayahku berkata “pelajari dulu dasarnya, de”. Aku harus belajar dengannya hingga larut malam. Namun akhirnya aku mengantuk, dan setiap ku tertidur di sudut ruang itu, ayahku lah yang membawa ku ke kamar.
Beberapa hari kemudian, aku tak melihat senyumnya yang indah sambil menghidangi kue-kue lezat untukku dan keluargaku di pagi hari. Aku tak pernah menyangka ia akan pergi secepat itu. Aku tak menyangka akan kehendak Tuhan yang satu itu.
Kini ku tak lagi harus menangis karena kesepian atas kepergiannya. Yang aku ketahui hanya, tak ada daun yang jatuh tanpa seizin Tuhan. Ini semua adalah scenario Tuhan. Dan setiap luka itu sakit, tapi setiap luka itu pasti sembuh.
Kini ku telah lupa akan itu semua. Melodi yang terindah dari ayahku telah hilang. Aku tak pernah mendengar alunan nada-nada seindah itu lagi setiap harinya. Tak ada yang menemaniku merawat taman lagi, tak ada yang mengajari ku akan music lagi, tak ada yang membantuku mengerjakan tugas praktik Fisika. Semua musnah, sejak ia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Hari-hari ku sepi tak berarti tanpannya. Karena ia adalah penghibur hariku. Ia ayahku yang tercinta, aku sangatlah berbeda dengannya. Aku sudah berusaha menjadi seorang wanita yang tenang. Namun itu tak bertahan lama. Karena penenang itu telah hilang, melodiku telah hilang…
*note : ‘’hiasi selalu hari kita dengan senyum dan nikmati hari demi hari. Jangan sesali atas apa yang hilang, karena di dunia ini tak ada yang abadi”
Komentar
Posting Komentar